AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Sejarah Intelejen Jepang di Sumatera

21 December 2015 - dalam History Oleh azro_el-fib11

Dalam masa Pra sejarah manusia purba sebenarnya secara tidak langsung sudah mengenal metode perisikan sederhana, mereka bertahan hidup dalam ganasnya kompetisi untuk mempertahankan hidup di alam, seperti ketika mengintai binatang yang akan di buru, teknologi pengintipan yang dilakukan untuk mengetahui posisi yang tepat untuk menangkap binatang. setelah manusia semakin maju keinginan untuk saling berkompetisi untuk menjadi yang paling superior manusia berebut wilayah kekuasaan sebagai hak golongan atau kaum, konflik dan peperangan dalam masa sebelum perang dunia pun sudah terjadi hingga puncaknya pada masa kolonialisasi, seorang agen akan dikirim keberbagai wilayah untuk mengumpulkan informasi yang akan berguna sebagai bahan sebelum menaklukkan sebuah wilayah.[1]

Sun Tzu dalam karyanya yang berjudul  The Art of War telah menyatakan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang terbaik untuk mengalahkan pihak musuh, sebaliknya kaedah yang paling berkesan adalah dengan menggunakan kebijaksanaan.  Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa betapa perlunya perisikan dijalankan untuk mengenal pasti kekuatan dan kelemahan musuh.  Aktiviti perisikan begitu sinonim dengan aktiviti sulit yang dilakukan oleh agen-agen perisik yang bertanggungjawab merisik untuk mendapatkan rahsia pihak yang dianggap sebagai musuh atau sebuah negara yang lain, yang mana tujuannya adalah untuk ketentaraan, politik, ekonomi dan sebagainya.[2] Aktivitas perisikan ini tujuan utamanya untuk mengumpulkan semua data yang dapat dianalisis dan diguna pakai dalam menyelesaikan permasalahan, tak hanya dalam sebuah masa peperangan tapi juga penting ketika Negara tidak sedang berperang, sebaliknya lebih bersifat untuk kebutuhan internal. Untuk menjaga stabilitas sebuah Negara, seperti untuk mengetahui rancangan teroris, penculikan, pembunuhan, politik, pemahaman keagamaan yang radikal membutukan usaha risikan untuk mendapatkan informasi tentang itu. Jepang telah mengawali usaha perisikan di daerah Asia Tenggara terutama di tanah melayu dan juga di Indonesia.

Menjelang perang dunia II Jauh sebelum itu Jepang telah menyebarkan rakyatnya ke berbagai wilayah di Asia Tenggara termasuk di Sumatra pulau terdekat dengan Tanah Melayu telah menjadi sasaran, persaingan antara british dan Belanda dapat di ambil celah oleh Jepang yang berkeinginan untuk menguasai Tanah Melayu dan Indonesia, dalam tempoh antara tahun 1930-an-1941. Jabatan luar negeri jepang telah secara aktif mengirim berbagai agen secara tidak langsung maupun secara langsung. Penduduk jepang yang dikirim ke Tanah Melayu tidak menyadari bahwa surat-surat yang dihantar oleh mereka kepada saudaranya di Jepang telah menjadi bahan aktivitas perisikan. Sedangkan aktivitas perisikan secara langsung dilakukan oleh perisik jepang yang telah diberikan latihan penuh dan bertanggung jawab untuk mendapat informasi di tanah Melayu termasuk juga dikawasan sumatera yang dianggap amat penting oleh jepang karena menjadi titik persilangan timur-barat di kawasan Asia Tenggara untuk menguasai wilayah Asia Tenggara Jepang harus menguasai Sumatera sebagai benteng pertahanan serangan dari Barat karena jepang mendapatkan informasi serangan balasan akan dilancarkan dari Srilanka dan India oleh karena itu pusat tentara Jepang harus berada di selat Melaka dan Sumatera dan pesisir pantai barat semenanjung tanah Melayu[3].

 

Masuknya perisik ke sumatera.

Dilihat dari kondisi ekonomi, Sumatera memang  merupakan pulau yang kaya dengan sumber hasil alamnya,, laporan ekonomi menunjukkan bahwa Sumatera termasuk Aceh mempunyai hasil pertanian yang begitu besar, sekitar tahun 1939, Aceh dikatakan telah mempunyai 18 buah kilang pemprosesan beras, seorang pentadbir keturunan Jepang mengatakan bahwa pada awal September 1942, sudah terdapat kira-kira 40 kilang beras di Aceh yang sebagian besar dimiliki orang cina, selain Cina sektor ini juga dikuasai oleh Belanda. Kekayaan ini mampu menjadi sumber makanan yang sangat penting kepada pihak Jepang, selain hasil pertanian juga ada beberapa titik wilayah terdapat sumber minyak bumi yang besar, ini yang mendorong Jepang untuk menginvasi Sumatera.[4]

Keadaan Sumatera sebelum kedatangan Jepang berbagai wilayah telah banyak dikuasai oleh Kompeni Belanda, mereka telah banyak membangun bangunan pemerintahan, tempat tinggal, dan tempat hiburan. Hal ini mengakibatkan budaya mereka pun masuk ke Sumatra, seperti kesenangan mereka untuk berpesta dan dansa yang biasa di lakukan di Hotel atau Club malam, bahkan telah dibangun juga rel kereta api, terutama antara Langsa dan Medan, yang menjadi pusat akomodasi paling ramai untuk mengangkut hasil bumi, saat itu komoditas Pertanian masih padi, dan hasil hutan, meskipun saat itu di Hutan masih banyak yang virgin belum tersentuh manusia, banyak daerah juga yang masih terisolasi susah untuk di akses, dan masih banyak hewan buas, semacam harimau, gajah bahkan ular python yang sering masuk ke pemukiman penduduk.[5]

Ramainya kedatangan Tentara Jepang keberbagai wilayah di Asia Tenggara turut memainkan peranan dalam aktivitas perisikan. Mereka mulai aktif mengumpulkan Informasi berkenaan Asia Tenggara sejak awal abad ke-20 lagi. Tahun 1915, Tentera Laut Jepang telah dikatakan terlibat dalam peristiwa Dahagi 1915 di Singapura apabila kapal tentera laut Jepang memberikan bantuan kepada British untuk mengawal pemberontakan daripada tentara British India (Sepoi).[6]

Agensi Perisikan Jepang telah memberikan latihan yang terbaik kepada setiap agen perisiknya bagi memastikan mereka mempunyai kemahiran yang tinggi. Salah satu langkah awal yang digunakan adalah dengan memberi latihan kemahiran untuk berbahasa asing. Sekolah bahasa asing banyak didirikan di Osaka dan Tokyo.[7] Pada tahun 1940, sebanyak 25 orang pelajar Jepang yang mengikuti kursus untuk menguasai Bahasa Melayu. Pelajar-pelajar yang menerima pelajaran terhadap bahasa ini akan direkrut  dalam agensi perisikan secara langsung atau tidak langsung. kemampuan berbahasa lokal akan membantu ageen-agen ini untuk berkhidmat di Tanah Melayu dan mengumpulkan informasi yang diperlukan oleh pihak Jepang.[8]

Setelah kekalahahan British di Tanah melayu kepada tentara Jepang yang dikarenakan persiapan Jepang yang begitu teliti dengan memahami segala aspek yang ada di Tanah Melayu dalam usaha penaklukannya, pihak British yang tidak siap dalam pertahanan, tidak pengalaman perang dalam hutan, dan tidak mempunyai kelengkapan perang seperti kereka kebal dan pesawat udara yang mencukupi. Faktor persediaan yang minimum untuk menghadapi serangan Jepang dan andaian bahwa Jepang tidak mungkin menyerang tanah Melayu akhirnya telah merusak seluruh pertahanan British yang pada hakikatnya masih dalam proses perancangan.[9] Kemarahan Jepang tidak terhalang oleh British yang ketika itu sedang memerintah Tanah Melayu, usaha Perisikan yang telah lama tidak diketahui British, informasi yang diperoleh Jepang atas rapuhnya pertahanan di bagian utara Semenanjung Tanah Melayu telah memberi laluan dengan mudah kepada tentara Jepang untuk masuk ke Tanah Melayu,

Kejatuhan Singapura pada 15 Februari 1942 merupakan detik hitam dalam sejarah keagungan empire British apabila mengakui kekalahan terhadap Jepang, Informasi perisikan British di Singapura mengatakan bahwa Kedutaan Jepang telah membiayai sekitar $12000 untuk membiayai aktivitas perisikan di Tanah Melayu termasuk di Sumatera. Selain itu, Dr.Tsune Ouchi yang bertugas di Biro Kesehatan Liga Nation (League of Nation Health Bureau) mempunyai imuniti diplomatik sehingga mempersulit pihak British untuk mengambil tindakan terhadapnya. Beliau merupakan peneraju kepada aktivitas perisikan di Singapura.[10] Hal ini jelas menunjukkan bahwa pihak Kedutaan Jepang bukan hanya menguruskan warga Jepang yang berada di luar negara tetapi menggunakan agensi ini sebagai satu badan perisikan dan pusat pengumpulan Informasi  berkenaan Tanah Melayu dan Sumatera.

Seperti halnya di Tanah Melayu jauh sebelum Jepang datang dengan tentaranya sudah ada beberapa Perisik yang tinggal di Gajah Muntah sejak sekitar tahun 1933, Salah satunya bernama  gyllenskold salah satu perisik dari British.[11] Dan jepang juga telah menjalin hubungan dengan Aceh, hubungan ini bermula apabila satu utusan dari istana Aceh, iaitu sultan M. Daud dan Tuanku Mahmud telah pergi ke Singapura untuk membuat hubungan langsung dengan Konsulat General jepang, hubungan rahasia ini bertujuan untuk mengalahkan kuasa Belanda. Hubungan ini juga berkelanjutan dari kemenangan Jepang dalam mengalahkan Rusia dalam perang Rusia dan Jepang, hubungan ini diperkirakan telah terjadi pada tahun 1907, ketika Tuanku Mahmud telah menjalin hubungan dengan Jepang.

Pada tanggal 5 maret 1942 datang beberapa tentara Jepang yang mendarat di Sumatera pendaratan pertama sebanyak 20 000 orang tentara dari divisi ke 16 dan divisi ke 18 di Tanjung Tiram dan Kuala Bugak di Aceh. Selanjutnya gelombang-gelombang tentara Jepang dating, salah satunya pada tanggal 12 Maret naik kapal tengah malam mendarat di Rabhanruku, Provinsi Sumatera Timur sebelah utara. Area pantai yang mempunyai pasir putih denan air yang jernih, meskipun ketinggian air hanya 50 cm, pantai ini ideal untuk pendaratan beberapa kapal boat.[12] 

Tentara-tentara Jepang membawa sepeda untuk menelusuri wilayah-wilayah di Sumatera, berbeda dengan Belanda yang lebih banyak membawa mobil di karenakan sebelumnya Jepang telah mendapat informasi banyak dalam usaha perisikannya di Tanah Melayu dan Sumatera. Seperti operasi di malaka, tentara Jepang bisa mobile dengan menelusuri ibu kota Sumatera yaitu Medan dia mulai menjelajahi hingga Tebing Tinggi, Pematang Siantar kota di dataran tinggi  dan kedaerah-daerah lainnya.[13] Jauh sebelum masa itu di Bengkulu sudah dikuasai oleh Belanda yang dipimpin oleh resident Stamford Raffles pada tahun 1819 adalah[14].

Hubungan Pihak Fujiwara Kikan Dengan Nasionalis Aceh.

Pentingnya Sumatera buat Jepang akhirnya membuat jepang mengirim agen perisik yang dijalankan Fujiwara Kikan, yang berawal pada 31 desember 1941, namun Fujiwara Kikan tidak mempunyai rancangan yang lengkap tentang perisikan Sumatera sehingga membuat beberapa orang Aceh menemui Fujiwara Iwaichi di Pulau Pinang, pentingnya wilayah Tanah Melayu seperti kedah, Pulau Pinang dan Perak memang mempunyai sebuah ikatan historis dengan Sumatera, terutama dengan Aceh, hubungan intim itu kekal hingga hari ini.[15]

Hubungan intim ini diperkirakan sudah terjadi sejak ratusan tahun silam, Ibrahim Abu Bakar pernah mengatakan hubungan ini berlaku sejak abab ke 14, namun hubungan ini semakin erat pada tahun 1619 dengan lahirnya Kampung Kedah di Banda Aceh begitu juga sebaliknya terdapat kampung Aceh di Kedah. Begitu juga di Pulau Pinang sejak abad ke- 19 orang Aceh telah menetap di Acheen Street (Lebuh Aceh). Malah hingga hari ini, di kedah dan Pulau Pinang kita akan memperoleh beberapa peninggalan yang berhubungan langsung dengan Aceh seperti sungai Aceh di seberang Prai dan Pulau Pinang, serta Masjid Aceh di Langkawi. Jika ditelusuri lebih dalam Abdullah Husain mengatakan orang Aceh telah menghuni Pulau Pinang sebelum kedatangan British, Kedatangan orang Aceh bertujuan untuk melakukan perniagaan terutama dengan kawasan Teluk Jelutong dan antara tokoh pedagang Aceh yang penting termasuk Haji Keramat dan Haji Bayan. [16]

Masyarakat Aceh yang ramai di Pulau Pinang juga menjadi sebuah kekuatan politik, mereka melakukan hubungan diplimatik, perang urat saraf dan dan memberi bekal senjata pada pejuang-pejuang dari Aceh dalam usaha mereka menumpas Belanda serta mempertahankan keutuhan wilayah Aceh. Seperti hal-Nya di Aceh di wilayah-wilayah lain di Sumatera.

 

Kewujudan organisasi yang terancang untuk mendapatkan informasi telah diwujudkan pada abad ke 19. Kemunculan organisasi-organisasi yang dibentuk oleh pihak Jepang bertujuan mengaburkan mata pihak barat dalam mengembangkan akivitas perisikan. Genyosha dan Korkuryukai (Black Dragon Society) adalah rangkaian organisasi perisikan yang dibentuk mengabungkan tokumu kikan (Pusat Cawangan Khas) ia itu tentera darat dan laut. Selain itu, terdapat juga organisasi yang dibentuk dalam bentuk pelajaran, perdagangan dan kebudayaan seperti Toa Keizai Chosa Kyoku. Penubuhan unit Daro Nawa pada 1 Januari 1941 yang kemudian ditukar nama kepada Jabatan Penyelidikan Tentera Darat Taiwan bertujuan untuk mendapatkan informasi dan perisikan yang boleh digunakan tentera Jepang dalam melancarkan serangan di Asia Pasifik termasuklah Tanah Melayu.[17] Rancangan ini telah dilaksanakan dibawah pemerintahan Kolonel Tsuji Masanobu yang berpusat di Taiwan. Sejumlah 20,000 yen diperuntukan bagi mendapatkan informasi merangkumi wilayah Pasifik melibatkan Tanah Melayu, Filipina, Indonesia dan Burma. [18] Kerajaan Aceh mempunyai kekuatan yang kuat, salalu konsisten untuk mempertahankan wilayahnya dari kekuasaan asing, serangan belanda pada tahun 1870 menjadi awal mula perang yang kemudian serangan demi serangan berlanjut,[19]



[1] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 2014. hlm. 248.

[2] Ibid, hlm 155. 

[3] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, Hlm. 250

[4] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 251.

[5] Boris Hembry, Malayan Spymaster: memoirs of a rubber planter, bandit fighter and spy, Singapore: moonson book, 2011, Hlm. 43.

[6] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 153.

[7] Ibid, hlm. 153.

[8] Ibid, hlm. 154.

[9] Mohd Radzi Abd Hamid, Pendudukan Jepang Di Tanah Melayu dan Borneo, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 2009, hlm. 1.

[10] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 235.

[11] Ibid, Hlm. 44.

[12] Takao Fusayama, A Japanese Soldier in Malaya & Sumatera, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 997, hlm.  112.

[13] Ibid, hlm. 113.

[14]Boris Hembry, Malayan Spymaster, hlm.  44.

 

[15] Boris Hembry, Malayan Spymaster, hlm. 252.

[16] Abdullah Hussain, Sebuah Perjalanan. Kuala Lumpur: Dewan bahasa dan Pustaka, hlm. 12.

[17] Mohd Radzi Abd Hamid. Pendudukan Jepang di Tanah Melayu dan Borneo. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2009, hlm. 46.

 

[18] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 171.

[19] Ibid, hlm. 45.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    20.778